Minggu, 04 Juni 2017

BERADU AKTING


     
          Ini adalah pertama kalinya gue beradu akting di kelas XI IPA 6. Awalnya sih bermula dari pengambilan nilai tugas kelompok Drama B. indonesia yang dibimbing oleh Pak Liman. Nah setelah diberi tugas kelompok drama,  XI IPA 6 mulai terombang-ambing, kesana-sini mencari pasangan kelompok. Pas diberi tugas kelompok itu, gue emang udah mau ngerencanaain berpasangan kelompok drama sama Amalia dan Laras (awalnya), tapi dalam kelompok itu harus berjumlah 6-7orang dan minimal harus ada cowok dan cewek. 


Okelah, yang jumlah kelompok orangnya banyak harus terpisah diri menyesuaikan dengan jumlah yang telah tercantum tadi. Kemudian gue, Laras dan Amalia bingung nih mau gabung sama kelompok siapa dan mau gabung sama cowok yang mana?. Gue, Laras dan Amalia emang udah mau ngerencanaain cowok untuk didramanya si Imam aja biar seperti di sinetron KEMILAU CINTA KAMILA (sambil candain Imam). Eh si Imamnya malah gak mau. Dia bilang "ogah ah kalo gue gabung sama kelompok kalian, masa gue jadi Fadil, maless... apaan tuh sinetron Kemilau Cinta Kamila. Huh... (dengan suara khas cadelnya)". Hehe... Terus, yaudah deh akhirnya gue, Laras dan Amalia ikut bergabung bersama kelompoknya Miranti, Mada dan Meta. Pas udah gabung dan mau merundingkan tugas drama. Ehh... tau-tau Pak Liman menambahkan satu pemain cowok lagi si Ryan. Ya udah deh, kita semua berembuk memikir tentang drama apa nantinya.  Bukannya mikir, eh ini malah pada bercanda. Awalnya si Amalia yang mulai duluan (kayaknya) nyari ide buat drama aneh-aneh. Jadinya kita semua ketawa mulu. Kasiannya lagi Ryan, dia dicak-cakin mulu.  Lagian ada-ada aja sih masa Ryan dibilang jadi peri, kan kocak jadinya. Haha... (sabar ya Ryan).

Oh iya... waktu kerja kelompok, kita masih saja tetap bercanda. Tapi, tetap sambil nyari ide juga. Walaupun diri kita lagi di tempat kerja kelompok, tapi pemikiran kita keluar melayang kemana-kemana. Setiap teman kita tanyakan satu persatu, mau judul seperti apa?, cerita seperti apa?, tapi jawabanya "terserah" dari mulai Mada, Ryan, Miranti, Laras dan lain-lain. Kita juga sempat gonta-ganti naskah drama loh.., tapi naskah jatuh terakhir yaitu cinta 2 hati. Judulnya diambil dari sebuah film di bioskop yang dulu cukup nyentrik ditelinga. Alhamdulillah aku buat sendiri dan teman-teman mau memerankan adegannya. Habis yang lainnya sudah pada pasrah, haha *jadi gak tega aku*.

Tau gak sih?... pas mau latihan akting saja, kita sampai ketawa ngakak melihat rawut wajah teman kita. Apalagi aktingnya si Mada sama Ryan, sumpah aku, Meta, Miranti, Laras dan Amalia ketawa geli... Sampai-sampai pulang dari sekolah setelah latihan drama saja, aku, Meta dan Miranti masih ketawa membayangkan akting tersebut. Ya allah cukup gila dan geli rasanya dibuat sontak ketawa dengan akting mereka berdua. *ya allah help, help...* 



DRAMA XI SAINS 6 (SMAN 3 TANGSEL)


 CERITA INI HANYA KARANGAN FIKTIF BELAKA. APABILA
TERJADI  KESAMAAN NAMA, TEMPAT  DAN KEJADIAN ITU  HANYA SEKEDAR REKAYASA BIASA TANPA DISENGAJA.



  # CINTA 2 HATI # 


            Pagi yang cerah, terlihat Miranti duduk bersandar di taman sekolah. Seketika Mada pun menghampiri dirinya.
Mada    :”Hey Mir.. ”.
Miranti  : “Hey. Ada apa Mada?”.
Mada    :”Aku mau ngomong sama kamu”.
Miranti  :”Yaudah, ngomong saja. Emang kamu mau ngomong apa?”.
Mada    :”Sebenarnya aku mau ngomong.. hmm…”. (Tiba-tiba gugup).
Miranti  :”Ngomong apa sih Mada, jangan buat aku penasaran”.
Mada    :”Sebenarnya aku, aku suka sama kamu Mir. Mau gak kamu jadi pacar aku?. Asalkan kamu tau, aku sudah lama memendam perasaan ini sejak kita di kelas satu. Tapi aku malu untuk mengatakan kepadamu. Sekarang apa jawabanmu?. Aku siap kok, mendengar hasil yang kau katakan”.
Miranti  :”Mada, kenapa kau baru katakan ini sekarang padaku..!. Dan kenapa tidak dari dulu-dulu. Dan asalkan kamu tau, dulu aku juga menyukaimu. Tapi sekarang.., tidak mungkin aku dapat menerima cintamu. Karna.., ada yang lebih menyukaimu dari pada aku”. (Dengan wajah gemurau).
Mada    :”Siapa Mir?”
Miranti  :”Sahabat aku, Meta. Dia sudah lama suka sama kamu sejak di kelas satu. Setiap hari yang dia bicarakan hanya kamu Mada”.
Mada    :”Tapi, bukannya Meta suka sama Ryan?”.
Miranti  :”Enggak, kamu salah. Mungkin yang kamu dengar waktu itu Meta. Tapi sebenarnya  yang suka sama Ryan itu, Laras. Sahabat aku, tapi sayangnya Ryan tidak suka sama Laras. Dan Laras tau hal itu”.
Miranti  :”Dan aku mohon Mada, agar kamu mau menyatakan cinta ini untuk Meta. Dan berusaha menyukainya. Karna aku tak sanggup bila melihat sahabat ku selalu murung dengan sakit yang dideritanya. Sampai-sampai dia patah semangat dengan hidupnya. Aku gak tega Mada.. aku ga tega..”. (Sambil menangis).
Mada    :”Sebenarnya Meta sakit apa Mir?”.
Miranti  :”Waktu itu dia cerita  sama aku dan Laras. Dia bilang, dia jatuh dari tangga loteng di rumahnya. Sampai tangan kirinya patah berat dan kemungkinan udah gak bisa sembuh lagi. Dan saat itulah yang awalnya dia ceria, kini tak terlihat lagi cerianya. Aku mohon Mada, aku mohon kembalikan cerianya dengan perhatianmu dan juga pernyataan cinta darimu. Cuma kamu Mada yang bisa membuat dia kembali ceria”. (Dengan meneteskan air mata).
 Mada   :”Tapi Mir, mana mungkin aku lakukan hal itu. Sementara kalau aku lakukan itu, sama saja menghianati sahabat aku.. Ryan yang suka sama Meta. Sungguh, aku gak bisa Mir..”. (Bingung, sambil memikirkan).
Miranti  :”Tolong aku Mada, demi aku. Sekarang saja Laras sedang menghibur Meta di kelas. Agar Meta bisa ceria sediakala dan tidak murung terus”. (Meneteskan air mata).
Mada    :”Baiklah Mir, demi kamu aku kan lakukan hal itu”.
Miranti  :”Makasih Mada”. (Sambil memeluk).
Mada    :”Ia sama-sama. Udah dong jangan nangis lagi”. (Mengusap air mata Miranti).

(Tiba-tiba Lia dan Meli datang ke sekolah)
Lia         :”Mel...”.
Meli       :”Hmm.. apa si lu, ganggu gua aja. Gak tau apa gue lagi mainin Handphone”. (Sambil mengutak-utik Hp).
Lia         :”Liat tuh ada Mada.. (Sambil menunjuk ke arah Mada). Oh my godss.. dia ganteng banget..”. (Terpaku melihat).
Meli       :”Oiya.. benar ada Mada di taman, samperin yuk..”.

(Lia dan Meli bergegas menuju taman)
Lia & Meli :” Haii.. Mada…”. (Menggoda Mada dengan suara yang genit sambil memainkan rambut).
Lia         :”Ngapain sih Mada kamu di taman?. Apalagi sama si kacung satu ini”. (Sambil menunjuk ke Miranti).
Meli       :”Betul tuh kata Lia.. dari pada kamu berduaan di taman sama Miranti, Mendingan kamu bantuin aku sama Lia ngerjain PR MTK yuk.. mau yah..?”.
Lia         :”Ayolah Mada, aku kan dah datang pagi-pagi dan udah dandan cantik - cantik lagi buat kamu”.
Meli       :”Ia nih Mada. Aku dah rela-relain loh untuk datang pagi-pagi ke sekolah cuma buat kamu.  Apa sih yang gak buat kamu?. Hehe..”.
Lia         :”Aahh.. lebay banget si lu Mel..”. (Kesal mendengar perkataan Meli).
Meli       :”Yee.., biarin saja… heuh”.

(Tiba-tiba Miranti pergi dan bergegas menuju kelas)
Mada     :”Mir.., mau kemana?”. (Dengan suara yang lantang dan mengikuti Miranti).
Miranti   :”Ke kelas”.
Lia         :”Lah-lah.., kok Mada pergi”.
Meli       :”Yah.. Mada jangan tinggalkan aku dong..”. (Teriak dan mengikuti Mada).
Lia         :”Meli.. lu ninggalin gue..!!. Huh.. sebel”. (Teriak dan mengikuti Meli).
Meli       :”Oiya Li.. sorry.. makanya jalanya cepat dong. Tuh kan gue kehilangan jejak Mada. Elu si Li..”.
Lia         :”Loh kok, lu jadi marah sama gue sih..!!”.
Meli       :”Ya habis elu.. ah elah..”.
Lia         :”Udah ah, kita gak usah ribut-ribut.. mending ke kantin aja”.
Meli       :”Yaudah yuk”. (Bergegas menuju kantin).

Beberapa menit kemudian…
Di ruang kelas, tampak suasana terlihat hening. Mada yang tiba di kelas, terkejut melihat kondisi Meta. Mada pun menghampiri tempat duduk Meta dan mencoba memberi perhatian yang lebih untuknya mengingat akan perkataan Miranti.
Mada     :”Ya Allah Meta.., kamu kenapa?”.
Meta      :”Enggak kenapa-kenapa Mada. Udah kamu gak usah sok perhatian sama aku”. (Sambil membuang muka).
Mada     :”Udahlah Met, tak usah kau membuang muka seperti itu. Ayolah Met, cerita sama aku”. (Membujuk Meta).
Meta      : (Tiba-tiba menangis).”Aku tahu Mada, aku wanita yang gak berguna lagi. Sekarang tangan kiriku patah berat dan kata dokter tangan aku udah gak bisa sembuh lagi. Aku sedih Mada..”.
Mada     :”Kata siapa kamu wanita tak berguna?. Buktinya saja, biar dalam kondisi seperti ini kau masih bisa melakukan aktivitas seperti sekolah. Coba Meta kau bayangkan, masih ada orang yang di luar sana yang kondisinya lebih parah dari kamu. Tapi, mereka menginginkan tuk bisa beraktivitas seperti biasanya. Padahal kenyataanya kondisi mereka tak dapat dipungkiri. Bagiku kaulah wanita yang berguna. Dan aku yakin Meta, tangan kamu pasti bisa sembuh. Makanya kamu jangan nangis lagi, hehe.. (Mengusap air mata Meta). Entar cantik kamu hilang loh..”.
Meta      :”Aahh.. Mada bisa aja.. hehe..”. (Sontak tersenyum).
Mada     :”Nah.. gitu dong senyum. Kalo kamu senyum setiap hari kan enak.. Hehe..”. (Ikut tersenyum).
Meta      :”Iihh.. Mada.. kalo aku senyum setiap hari, entar disangka aku orang gila tau!!”.
Mada     :”Haha.. lucu deh kamu. (Mengelitik Meta). Meta nanti istirahat bisa gak kita bicara berdua?”
Meta      :”Hmm.. bisa kok, hehe..”.
Laras      : (Dengan spontan berdoa keras).”Ya Allah.. trimakasih.. akhirnya sahabatku Meta dapat ceria kembali, apalagi cerianya bersama Mada.. amin. Ciee.. Mada sama  Meta, jadi iri deh..”.
Meta & Mada :”Apa sih laras…”.
Laras     :”Tuh kan  ngomong aja kompak.. ciee.. jodoh niyee..”. (Menggoda Meta dan Mada).
Laras & Miranti :”Hahaaha…”
Laras    :”Mir, liat deh Meta sama Mada sekarang kompak loh.. hehe..”.
Miranti  :”Hmm.. ia, ia..”. (Merasa cemburu).
Laras    :”Mir, kenapa si lu suaranya kayak gak senang gitu deh.. hehe..”.
Miranti  :”Hehe.. enggak kok, malahan gue senang.. banget”.
Laras    :”Cemburu ya?”. (Menggoda Miranti).
Miranti  :”Hah cemburu..!! mana mungkinlah. (Mengelak).
Laras    :”Oiya Mir, tadi gue cari-cariin lu. Lu kemana sih?.”
Miranti  :”Oohh.. tadi gue ke taman, kenapa kangen yah..?”.
Laras    :Iihh.. PD amat lu, Mir!. Ngapain lu di taman?”
Miranti  :”Hmm….”.

Tiba-tiba Lia dan Meli datang ke kelas. Lia langsung memotong pembicaraan Miranti. Dan suasanapun mulai memanas.
Lia        :”Yah.. ngapain lagi kalo gak berduan sama Mada. Hah!!”. (Dengan suara memekik).
Miranti  :”Hmm…. enggak kok..”.
Meli      :”Alah… gak usah muna deh lo, di depan teman-teman lo..’’. (Sambil memukul meja belajar).
Laras    :”Apa Mir?. Lu berduaan sama Mada?”. (Sontak kaget dengan suara yang keras)
Miranti  :”Hah, enggak kok. Enggak…”. (Mulai cemas).
Lia        :”Aahh.. enggak, enggak, enggak. Lu Cuma bisa ngomong enggak!”
Meta     :”Jadi Mir, selama ini……”. (Sontak kaget dengan rawut wajah yang sedih dan bergegas ke taman).
Miranti  :”Meta…, kamu mau kemana..?”. (Mengejar Meta).
Mada    :”Lia, Meli. Liat kan hasil perbuatan bicara lo, Meta jadi marah… HAH!!. Puas lo berdua”. (Kesal dan teriak keras diwajah Lia dan Meli).
Lia dan Meli terpaku kaget. Dan tak berkata apa-apa ketika Mada melontarkan kata dengan teriak keras. Saat itu Mada dan Laras bergegas mengejar Meta dan Miranti, Kemudian Ryan pun datang ke kelas.
Ryan      :”Eh Li, Mel. Anak-anak pada kemana?”. (Wajah bingung).
Ryan      :”Eh, lu berdua kok diam sih..?. Gue lagi ngomong nih sama lu berdua kenapa gua dikacangin??”.
Lia         :”Hah, enggak. Tadi anak-anak keluar”. (Dengan suara yang pelan dan gugup).
Ryan      :”Iaa.. keluar kemana?”. (Wajah penasaran).
Meli       :”Hmm.. mungkin itu… mungkin mereka ke taman kali..”. (Dengan suara yang pelan dan gugup).
Ryan      :”Ohh.. yaudah thanks ya..”. (Bergegas menuju taman).
Lia & Meli :”Iaa…”.

              Saat di taman…
Meta benar-benar merasa sedih mendengar pernyataan di kelas. Dia merasa terhianati oleh Miranti. Kemudian Miranti datang menghampiri dan menjelaskan semua yang terjadi antara dia dengan Mada.
Miranti  :”Met, sebenarnya gue…”. (Dengan perasaan bersalah).
Meta     : (Memotong perkataan Miranti).”Udahlah Mir, gak ada yang perlu lu jelasin lagi ke gue. Gue ngerti kok, Mir..”. (Meneteskan air mata).
Miranti  :”Met, tolong dengerin penjelasan gue. Asalkan lo tau gue sama sekali gak ada hubungan apa-apa sama Mada”. (Berusaha menjelaskan).
Meta     :”Terus kalo lo gak ada hubungan sama dia kenapa lu berduaan di taman Mir?.  Asalkan lo tau hati gue hancur dengar perkataan tadi di kelas”. (Sontak dengan suara yang lantang).
Miranti  :”Oke. Oke kalo lo mau tau sebenarnya.. Suatu saat nanti Mada akan nyatakan cinta buat lu..”. (Jawab terpaksa).
Meta     :”Udahlah Mir, ga usah lo berbohong sama gue. Karna gue tau, lu cuma ingin menghibur gue dalam kondisi gue seperti ini”. (Meneteskan air mata).
(Tiba-tiba Mada dan Laras menghampiri Meta)
Mada     :”Meta.., benar kok apa yang dibilang Miranti tadi. Awalnya aku ingin bicarakan hal itu pada saat istirahat.. nanti. Tapi, karna suasananya sudah berubah.. mungkin aku akan nyatakan cintaku ini sekarang. Meta, mau kan kamu jadi pacar aku?”. (Memberikan senyuman harapan).
Meta      :”Aku.. mau Mada..”. (Sambil memeluk dan menangis). “Trimakasih ya Mada”. (Dengan hati yang senang).
Mada     :”Iaa Meta”.

Dan saat itu, di bawah pohon besar Ryan mengintip dan menguping dari kejauhan percakapan Mada dengan Meta. Dan seraya Ryan merasa dihianati oleh Mada. Dan Ryan, enggan tuk berbicara dengan Mada di kelas.
            Waktu menunjukkan jam 7:30, bel sekolah pun berbunyi. Tet..Tet…Tet………
Mada, Meta, Miranti, Laras dan Ryan bergegas masuk ke kelas. Dan duduk di tempat masing-masing.
(Di dalam kelas, belum ada guru yang masuk untuk mengajar)
Meta     :”Mir.., maafin atas sikap gue ya.. yang tadi?”.
Laras    :”Iaa.. Mir, maafin gue juga ya..?”.
Miranti  :”Ia Meta, Laras.. gue juga dah maafin lu berdua kok!!. Hehe…”.
Meta & Laras :” Makasih ya Mir”. (Memeluk Miranti).
Meli      :”Yaelah.. gak usah pelukan bisa kali…!!!”. (Sambil kesal).
Lia        :”Tauu… Lebay bangett…”. (Sambil kesal).
Meta, Laras & Miranti :” Yeah… bilang aja sirikkk…”.
Lia        :”Iihh… males amat gue sirik sama lu bertiga”.
Meli      :”Jijay finattun..”.
Meta, Laras & Miranti :”HAHA…..”.
Mada     :”Hey.. hey kalian  jangan berisik ya. Gue mau panggil guru dulu nih… untuk ngisi pelajaran sekarang. Hhehe..”. (Bergegas menuju ruang guru)
Laras      :”Ciee..Mada tau dah yang baru jadian sama Meta..”. (Spontan teriak)
Meli & Lia :”Hah….. Mada jadian!!”
Ryan      :”AAH… Berisik lu semua…!!”. (Sambil memegang buku pelajaran).
Laras     :”Kenapa si Yan???. Jangan marah ahh”.
(Beberapa Menit kemudian… Mada masuk ke kelas)
Mada    :”Eh.. Hari ini katanya, guru lagi ada rapat sampai pulang. Jadi kita belajar-belajar saja di kelas. (Dengan suara yang lantang).
Meli & Lia :”Yeay… akhirnya gak ada guru”. (Sontak dengan senang).
(Mada pun kembali ke tempat duduknya di sebelah Ryan)
Mada     :”Yan, Kenapa si lo dari tadi gue perhatiin diam saja?. Ngomong dong Yan..”.
Ryan      :”Oke, kalo lo emang cowok. Gue tunggu lo pas istirahat, gue mau nanya sesuatu sama lo “. (Melempar wajah yang kesal).
Ryan      :”Dan gak usah deh lu sok, gentle.. di depan cewek”.
Mada     :”Apa si Yan.. maksud lu??”. (Mulai penasaran).
Ryan      :”Aahh.. gak usah belaga gak tau deh Da!!”.

Beberapa jam kemudian… Bel pun berbunyi menandakan waktunya istirahat. Meta, Miranti dan Laras langsung bergegas ke kantin. Seketika Meli dan Lia ingin ke luar dari kelas tak sengaja mereka mendengar percakapan Mada dan Ryan dari dalam kelas. Saat itu Meli dan Lia benar-benar memanfaatkan untuk menguping dari luar kelas.
Mada     :”Sebenarnya lo mau ngomong apa Yan?”.
Ryan      :”Da, lu kok bisa-bisanya pacaran sama Meta. Lo kan tau dari kelas satu gue suka sama dia. Tapi kenapa lu ngerebut dia dari gue.. dimana perasaan lu sebagai teman.. hah!!. Gue gak nyangka sama lo, setega itu lo nusuk gue dari belakang… Apa sih mau lu?. Dulu bukannya lu bilang sama gue, kalo lo sukanya sama Miranti. Tapi kenapa sekarang lu pacarannya sama Meta?”. (Melontarkan suara yang lantang).
Mada     :”Ia.. memang benar, dulu dan sampai sekarang pun gue masih suka sama Miranti. Dan lu tau kenapa sekarang gue pacaran sama Meta?. Karna ini semua permintaan Miranti. Saat tadi pagi gue nembak dia dan dia pun tolak gue. Malahan dia meminta tolong sama gue, agar gue mau menyatakan cinta untuk Meta. Karna apa?. Karna gue juga kasihan sama Meta yang selalu murung meratapi sakit yang dideritanya. Yang awalnya Meta ceria kini gak terlihat lagi cerianya. Dan karna itu Miranti gak tega melihat Meta, dia ingin dengan adanya perhatian gue yang lebih dapat membuat hidupnya ceria kembali. Dan gue lakukan itu demi Miranti dan gue gak ada niat sedikit pun untuk ngehianatin lo..”.
Ryan      :”Hmm.. sorry Da, gue dah berburuk sangka sama lu.. dan gue sekarang ngerti apa maksud lu melakukan semua itu. Maafin gue ya..?”. (Mengulurkan tangan).
Mada     :”Iaa..sama-sama Yan..”. (Berjabat tangan).
Ryan      :”Tapi Da, gimana dengan perasaan hatinya Meta?. Gue kasihan Da?. Apa gak sebaiknya lu bilang jujur saja sama dia?”.
Mada     :”Entahlah… gue sendiri juga bingung. Kalo dia dengar semua ini pasti dia bakal sedih dan terpukul merasa terbohongi sama gue”. (Bingung memikir).
Ryan      :”Yaudah lah Da, kita ke kantin saja”.
            Saat Ryan dan Mada ingin ke kantin. Lia dan Meli pun langsung bergegas dengan cepat menuju kantin. Di kantin Lia dan Meli bertemu dengan Miranti, Meta dan Laras. Meja yang di tempati Miranti, Meta dan Laras ternyata menjadi tempat favorit Lia dan Meli.
Lia         :”Heh.. misi lu.. para kacung. Ini tempat favorit gue sama Meli… Sana pindah..!!”. (Sambil memukul meja kantin).
Meli       :”Heh.. pada denger gak si lo…?. Sana pindah “. (Gaya dengan tolak pinggang).
Laras     :”Enak saja nyuruh orang pindah. Memang ini tempat embah mu.. Hah!!”. (Sontak dengan kesalnya).
Miranti & Meta :”Hahaha….”
Lia          :”Heh.. kacung. Denger gak si lo??.. gua bilang pindah, ya pindah..”.
(Tiba-tiba Mada dan Ryan datang ke kantin)
Mada     :”Gak ada yang boleh nyuruh Miranti, Meta dan Laras pindah. Memang siapa yang nyuruh, hah!!”. (Emosi melonjak).
Lia         :”GUE, memangnya kenapa. Hah.. gak senang lo”. (Sambil ngotot).
Mada     :”Oooh.. Jadi elo..!!. Memang gue dari awal gak senang sama lo.”
Meli       :”Alahh.. udalah Da, gak usah jadi orang munafik. Berpura-pura baik dan ngebelain para kacung ini.. Terutama Meta.. Hah!”. (Mulai memancing emosi).
Ryan      :”Apa mel maksud lo ngomong kaya gitu”. (Sontak dengan kesal).
Lia         :”Alahh.. gak usah dah lu Yan, pura-pura belaga gak tau. Memang gue sama Meli gak dengar apa perbincangan lo sama Mada?. Hah..”.
Meli       :”Dan lo Met, asal lu tau.. lu tuh dibohongin sama Mada. Dan pacaran lo sama mada hanya siasat belaka, agar lo tidak terpuruk dengan penyakit yang lu derita dan bisa kembali ceria sediakalanya.. “. (Dengan menunjuk ke arah Meta).
Lia         :”Dan satu lagi Met, asal lo tau.. sebenarnya Mada gak pernah suka sama lo. Yang dia suka cuma Miranti. Itu juga semenjak dari kelas satu”.
Meta      :”Enggak.., enggak mungkin..”. (Sontak kaget dari kenyataan dan sekejap sedih).

Dan saat itu, Meta pergi berlari meninggalkan semuanya di kantin dan bergegas menuju kelas. Mada, Ryan, Miranti dan Laras ikut mengejar. Lia dan Meli memanfaatkan semua keadaan dengan senang dan saling tos.
Meli & Lia :”Yeah.. (Saling tos). Hehe..”.
             
Seketika suasana menjadi berubah. Di ruang kelas Meta menyadari akan cintanya Mada dengan Miranti tak dapat dipungkiri. Dan Meta dapat menerima semua kenyataan walaupun sakit rasanya. Dia mulai mengerti bagaimana pengorbanan sahabatnya selama ini telah merelekan cinta Mada hanya untuknya. Walau dia tahu, cinta itu tak harus memiliki. Akhirnya Meta berinisiatif untuk mempersatukan cinta Mada dengan Miranti. Sebelum dia berangkat ke luar negeri.
(Tiba-tiba.. Mada, Ryan, Miranti dan Laras masuk ke kelas)
Miranti  :”Met..!!”. (Dengan suara halus)
Meta     :”Sudahlah Mir, aku sudah menyadari semuanya. Bahwa cinta kamu dengan Mada memang tak dapat dipungkiri. Kamu memang pantas menjadi pacar Mada. Mir aku mohon sama kamu, sebelum aku pergi ke luar negeri untuk berobat kamu mau yah.. terima Mada kembali jadi pacarmu..?”. (Dengan mempersatukan tangan Miranti dan Mada).
Miranti  :”Hmm.. gimana ya…?”. (Sambil tersenyum).
Meta     :”Ya.. aku marah nih.. hehhe..”. (Sambil tersenyum).
Miranti  : (menganggukan kepala).
Meta, Laras & Ryan :“Yeah…heheh”.
Tiba-tiba Handphone Meta berdering, ternyata dia mendapatkan SMS dari orang tuanya. Bahwa orang tuanya telah menuggu di depan sekolah untuk bersiap-siap pergi ke luar negeri untuk berobat ke salah satu rumah sakit terkenal di Amerika.
Meta     :”Teman-teman aku pamit ya.. orang tua ku sudah menunggu aku di depan sekolah. Hari ini aku akan pergi ke luar negeri selama 3 minggu untuk berobat di salah satu rumah sakit terkenal di Amerika”. (Dengan wajah yang sedih).
Miranti  :”Meta.. hati-hati ya.. “. (Sambil memeluk dengan wajah yang sedih).
Laras    :”Meta, semoga kamu cepat sembuh ya..”. (Sambil memeluk dengan wajah yang sedih).          
Meta     :”Iaa.. makasih ya teman-teman… dahh…”. (Sambil melambaikan tangan).
Mada, Miranti, Laras & Ryan :“Dahh.. Meta…”. (Sambil melambaikan tangan).
ENDING
  by: Meilia Puspita Sari 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

POEMS

~~  NASIB ANAK BANGSA ~~   Dunia bergejolak... Menghantam negeriku.. Menghantam  nasib anak bangsa. Dunia boleh saja tertawa ka...